Kol goreng yang gurih dan renyah kerap menjadi lauk pendamping nasi. Namun, cara mengolah sayuran ini membuatnya tidak cocok dikonsumsi semua orang. Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyarankan orang dengan riwayat penyakit kardiovaskular, kolesterol tinggi, hipertensi, atau aterosklerosis untuk menghindarinya.
Menurut Yaze, penggorengan bersuhu tinggi membuat kol menyerap banyak minyak. Bila minyak yang digunakan mengandung lemak jenuh dan lemak trans, konsumsi kol goreng dapat menambah asupan lemak yang berisiko memperburuk kondisi pembuluh darah.
Kol goreng dan risiko bagi pembuluh darah
Kol dikenal sebagai sayuran, tetapi proses pengolahan dapat mengubah komposisi makanan yang tersaji di piring. Yaze menjelaskan, kol yang digoreng dapat bertindak seperti spons dan menyerap minyak. Karena itu, sajian ini menjadi perhatian khusus bagi mereka yang sudah memiliki masalah kesehatan terkait jantung dan pembuluh darah.
Pada orang dengan aterosklerosis, penumpukan lemak jahat dapat memperburuk penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Risiko tersebut menjadi alasan dokter tidak menyarankan kol goreng bagi orang yang sudah memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, bahkan jika konsumsinya hanya sesekali.
“Kalau misalnya udah ada kayak memang kalau kolesterolnya tinggi, terus ternyata punya hipertensi. Apalagi sampai punya penyakit aterosklerosis ya pasti nggak akan disarankan. Mau dia sekali atau dua minggu sekali,” kata Yaze kepada detikcom, Jumat (16/10/2026).
Garam dan penyedap dapat menambah beban
Perhatian bukan hanya tertuju pada minyak. Kol goreng yang disajikan dengan garam atau penyedap rasa berlebihan juga dapat mengandung natrium tinggi. Menurut Yaze, tambahan tersebut membuat sajian yang semula berbahan sayuran menjadi kurang sesuai bagi orang yang perlu menjaga tekanan darah.
Ia mengingatkan, kol sebenarnya memiliki kandungan yang berpotensi membantu mencegah kanker. Namun, manfaat dari sayuran itu tidak bisa dilepaskan dari cara pengolahannya. Penggunaan minyak jelantah, bumbu tambahan, dan garam dapat mengubah profil hidangan.
“Itu kan yang tadinya si kol ini sehat, sayuran, bahkan dia tuh sebenernya ada kandungan untuk pencegah kankernya, eh ini gara-gara misalnya udah minyaknya minyak jelantah, ditambahin beberapa bumbu sama akhirnya ditambahin garam,” jelas Yaze.
Ia menambahkan, natrium yang tinggi dapat memicu hipertensi. Karena itu, orang yang memiliki tekanan darah tinggi sebaiknya tidak menganggap kol goreng sebagai pilihan aman hanya karena bahan dasarnya sayuran.
Seberapa sering kol goreng boleh dikonsumsi?
Bagi orang yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit metabolik, Yaze mengatakan kol goreng masih dapat dicicipi sesekali. Namun, porsinya dan frekuensinya tetap perlu dibatasi. Ia menyarankan agar makanan tersebut tidak menjadi bagian rutin dari menu mingguan.
“Kalau misalnya orang dengan sehat itu mungkin dia kayak cicip aja dalam waktu seminggu sekali itu masih oke,” ujarnya. Ia kemudian mengingatkan agar konsumsi berikutnya diberi jarak, bukan dilakukan hampir setiap minggu.
Saran tersebut berbeda bagi orang dengan kolesterol tinggi, hipertensi, aterosklerosis, atau penyakit kardiovaskular. Untuk kelompok ini, Yaze menegaskan kol goreng sebaiknya dihindari, bukan sekadar dikurangi frekuensinya. Kondisi kesehatan masing-masing tetap menjadi pertimbangan penting dalam memilih makanan.
Pilih kol segar, kukus, atau rebus
Sebagai pengganti, orang yang berisiko dianjurkan memilih kol segar atau mengolahnya dengan cara dikukus. Sayuran lain yang kaya serat dan nutrisi utuh juga dapat menjadi pilihan, sesuai anjuran Yaze. Cara pengolahan yang lebih sederhana membantu menghindari tambahan minyak dan garam berlebih dari sajian gorengan.
Kol goreng tidak otomatis menjadi masalah yang sama bagi setiap orang, tetapi kebiasaan makan dan riwayat kesehatan perlu diperhitungkan. Bagi pengidap hipertensi maupun gangguan pembuluh darah, memilih olahan sayur yang lebih ringan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga pola makan. Jika memiliki kondisi medis tertentu, pilihan menu sebaiknya disesuaikan dengan saran tenaga kesehatan yang menangani.
