Abdul El-Sayed mencatat sejarah dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) setelah terpilih sebagai anggota Senat AS dari Michigan. Dokter dan mantan pejabat kesehatan masyarakat itu menjadi Muslim pertama yang akan duduk di lembaga tersebut ketika Kongres baru mulai bersidang pada Januari mendatang.
El-Sayed mengalahkan Mike Rogers, mantan anggota DPR dari Partai Republik, dalam persaingan yang menjadi sorotan. Kemenangannya sekaligus memastikan kursi Senat dari Michigan tetap berada di tangan Partai Demokrat. Kursi itu sebelumnya ditempati Senator Gary Peters, yang memilih pensiun.
Hasil tersebut punya arti khusus di negara bagian yang dimenangi tipis oleh Donald Trump dalam pemilihan presiden 2024. Bagi El-Sayed, kemenangan ini diraih setelah melewati pemilihan pendahuluan Demokrat yang kompetitif dan kampanye yang diwarnai perdebatan tentang agama serta identitasnya.
Agama menjadi isu dalam kampanye El-Sayed
El-Sayed menghadapi serangan dari Trump dan sejumlah tokoh Partai Republik yang berulang kali menyoroti latar belakang agamanya. Ia menepis tuduhan yang mengaitkannya dengan ekstremisme. Isu tersebut menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam persaingan menuju kursi Senat dari Michigan.
Dalam pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya pada Rabu dini hari, El-Sayed berterima kasih kepada para pemilih dan berjanji membawa semangat yang sama ke Senat. Ia menyebut tekad, keterbukaan, dan welas asih sebagai nilai yang ingin dibawanya dalam menjalankan tugas.
“Michigan, saya tidak sabar untuk melayani Anda dengan hati yang lapang, pikiran yang terbuka, ketangguhan, dan kesungguhan yang telah Anda tunjukkan kepada saya,” ujar El-Sayed.
Ia juga mengajak pendukungnya memandang hasil pemilu sebagai kemenangan bersama. Dalam pidato itu, El-Sayed menyebut para lawan politiknya telah kalah dan mereka yang berjuang untuk tujuan lebih besar telah menang. Ia menutup bagian tersebut dengan menyapa Rogers dan menyuruhnya menikmati masa pensiun.
El-Sayed kemudian melontarkan sindiran kepada Wakil Presiden JD Vance. Ia merujuk pada proses konstitusional pengambilan sumpah senator terpilih, dengan menyebut Vance berkewajiban melantiknya pada Januari. Kepada Trump, ia menyinggung kesulitan presiden itu melafalkan namanya selama kampanye.
“Donald, dengar, saya tahu Anda kesulitan menyebut nama saya. Jadi, setelah JD melantik saya pada bulan Januari nanti, Anda bisa langsung memanggil saya ‘Senator’,” ujarnya.
Janji kampanye: politik, biaya hidup, dan kesehatan
Gagasan utama yang ditawarkan El-Sayed kepada pemilih diringkas dalam slogan tiga bagian: mengeluarkan uang dari politik, memasukkan uang ke kantong warga, dan menyediakan layanan kesehatan untuk semua. Slogan itu menghubungkan agenda reformasi politik dengan persoalan ekonomi sehari-hari dan akses kesehatan.
Dalam kampanye, ia juga mendesak Rogers menjelaskan dukungannya terhadap kebijakan tarif pemerintahan Trump, termasuk perang dagang dengan Kanada. Negara itu merupakan mitra ekspor terbesar Michigan. El-Sayed turut menuduh Rogers mendukung perang AS melawan Iran, yang menurutnya telah mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar.
Perdebatan mengenai tarif, harga energi, dan layanan kesehatan menjadi bagian dari upaya El-Sayed membedakan posisinya dari lawan. Kemenangannya kini menempatkannya pada tahap berikutnya: membawa janji kampanye tersebut ke Senat setelah resmi dilantik.
Aber Kawas dan sejarah keterwakilan Palestina
Nama Aber Kawas juga mencuri perhatian dalam pemilu sela itu. Perempuan berusia 34 tahun tersebut dilaporkan meraih 75 persen suara ketika sekitar 90 persen suara telah dihitung. Ia disebut sebagai perempuan berhijab keturunan Palestina-Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota badan legislatif negara bagian New York.
Kawas mengumumkan kemenangannya melalui akun X dengan pesan singkat, “Kita telah mencatatkan sejarah.” Ia mengusung slogan “danai martabat, lawan kehancuran”. Bagian pertama merujuk pada dukungannya terhadap layanan kesehatan untuk semua, transportasi umum yang cepat dan andal, serta perumahan terjangkau.
Sementara itu, seruan “lawan kehancuran” menggambarkan sikap Kawas terhadap perubahan iklim, perlindungan imigran, dan penolakannya terhadap pendanaan perang. Ia merupakan anggota Democratic Socialists of America, organisasi yang meraih pencapaian politik penting di New York sejak salah satu anggotanya, Zohran Mamdani, memenangkan pemilihan di New York City tahun sebelumnya.
Kemenangan El-Sayed dan Kawas menunjukkan semakin beragamnya wajah politik Amerika, meski keduanya terpilih pada tingkat pemerintahan yang berbeda. El-Sayed akan bergabung dengan Senat federal, sedangkan Kawas terpilih ke badan legislatif negara bagian New York. Perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana keduanya menerjemahkan mandat pemilih menjadi kebijakan dan layanan publik.
