Anies Baswedan menyebut demokrasi Indonesia berada dalam bahaya jika pihak yang menjaga kompetisi politik dikendalikan, lawan tidak mendapat ruang bertanding, dan aturan main terus diubah. Pandangan itu disampaikan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut saat berbincang dengan motivator Merry Riana dalam sebuah podcast yang diunggah di YouTube.
Dalam perbincangan itu, Merry menanyakan pengalaman mana yang lebih menyakitkan bagi Anies: kalah dalam Pilpres 2024 atau tidak dapat maju dalam Pilkada 2024. Anies tidak menjawab dengan membandingkan kekecewaan pribadi. Ia mengarahkan percakapan pada keadaan demokrasi yang, menurutnya, perlu dijaga.
“Kalau buat saya, tidak ada soal sakit atau tidak. Ini adalah warning tentang demokrasi kita. Ini bukan tentang pribadi, demokrasi ini harus dijaga,” kata Anies.
Ia menegaskan bahwa pengalamannya dalam dua kontestasi politik itu tidak semestinya menjadi satu-satunya pokok pembicaraan. Bagi Anies, persoalan yang lebih luas adalah apakah proses demokrasi berlangsung dengan adil dan memberi kesempatan kepada pihak-pihak yang ingin berkompetisi.
Tiga hal yang dinilai Anies mengancam demokrasi
Anies menyampaikan tiga kondisi yang menurutnya dapat menjadi tanda demokrasi berada dalam bahaya. Pertama, pihak atau lembaga yang seharusnya menjaga jalannya kompetisi politik tidak lagi independen karena berada dalam kendali pihak tertentu.
“Kalau wasit dikendalikan, penyangga dikendalikan,” ujarnya. Istilah “wasit” dan “penyangga” ia gunakan untuk menggambarkan unsur yang semestinya memastikan kompetisi berjalan menurut aturan. Dalam pandangannya, fungsi penjaga itu penting agar proses politik tidak berat sebelah.
Kedua, ia menyoroti situasi ketika lawan politik tidak memiliki ruang untuk ikut bertanding. Kompetisi yang terbuka, menurut Anies, merupakan bagian penting dari demokrasi. Tanpa kesempatan bagi pihak yang berbeda untuk berpartisipasi, persaingan politik tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Yang kedua, lawan ditiadakan,” kata Anies.
Poin ketiga berkaitan dengan aturan main. Anies mengingatkan bahwa perubahan aturan yang berulang dapat menjadi masalah apabila memengaruhi jalannya persaingan politik. Ia tidak menguraikan perubahan aturan tertentu dalam percakapan tersebut, tetapi menyebut perubahan semacam itu sebagai salah satu tanda yang patut diwaspadai.
Pengalaman pribadi dan persoalan yang lebih luas
Jawaban Anies muncul setelah ia ditanya tentang dua pengalaman politik yang berbeda: kekalahan dalam Pilpres 2024 dan tidak dapat maju dalam Pilkada 2024. Namun, ia memilih tidak menempatkan kedua hal itu sebagai urusan sakit hati atau kekecewaan pribadi. Ia mengatakan perhatian seharusnya tertuju pada kondisi demokrasi.
Dengan kerangka itu, tiga hal yang ia sebut—independensi pihak penjaga, keberadaan ruang bagi lawan, dan kepastian aturan—menjadi ukuran yang ia gunakan untuk membicarakan kualitas kompetisi. Anies menekankan pentingnya memastikan unsur-unsur tersebut tetap terjaga, bukan hanya ketika seseorang sedang mengikuti pemilihan, melainkan sebagai bagian dari proses demokrasi itu sendiri.
Ia juga mengingatkan agar peristiwa yang dialaminya tidak dipersempit menjadi pembahasan tentang nasib politiknya. “Ketika salah, kejadian-kejadian yang terjadi, maka yang dalam bahaya demokrasi kita, ini bukan soal Anies,” ujarnya.
Demokrasi sebagai perhatian bersama
Pernyataan tersebut menempatkan pengalaman Anies dalam konteks yang lebih besar, yakni bagaimana kompetisi politik berlangsung. Dalam pandangannya, demokrasi membutuhkan penjaga yang tidak dikendalikan, kesempatan bertanding yang terbuka, serta aturan yang tidak berubah-ubah dengan cara yang memengaruhi persaingan.
Ucapannya merupakan penilaian Anies atas kondisi demokrasi, disampaikan dalam percakapan dengan Merry Riana. Ia tidak memaparkan contoh terperinci untuk masing-masing tanda yang disebutkan. Namun, pesannya jelas: pembahasan demokrasi tidak seharusnya berhenti pada hasil yang dialami seorang tokoh, melainkan juga mencakup proses dan ruang bagi semua pihak untuk berkompetisi.
Perdebatan mengenai kualitas demokrasi akan terus membutuhkan perhatian publik, terutama ketika menyangkut siapa yang menjaga kompetisi dan bagaimana aturan diterapkan. Bagi Anies, memastikan proses itu tetap adil merupakan pekerjaan yang lebih penting daripada membicarakan dirinya semata.
