Martha Amalia Iflahah, istri sah Dwi Bagus Martono, mengaku tidak mengetahui pembunuhan Dini Hardiyanti dan anaknya yang berusia 4 tahun. Saat peristiwa itu terjadi, ia mengatakan sedang mengajar di sekolah. Martha menyampaikan keterangannya kepada wartawan pada Senin (2/11/2026), didampingi pengacara.
Bagus, 40 tahun, telah ditangkap dan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Dini, 30 tahun, serta anaknya. Martha mengatakan ia tidak mengetahui apa yang dilakukan suaminya di halaman belakang rumah mereka di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
“Saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi, saya benar-benar tidak mengetahui apa yang suami saya lakukan,” kata Martha. Ia menegaskan, pada waktu yang disebut sebagai saat kejadian, dirinya berada di tempat kerja.
Martha mengaku bekerja saat peristiwa terjadi
Martha menjelaskan, jam kerjanya sebagai guru dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 15.30 WIB. Ia biasanya sudah tiba di sekolah sebelum pukul 07.00 untuk melakukan absensi, lalu baru pulang setelah menyelesaikan absensi pada sore hari.
Menurut Martha, informasi yang ia terima menyebut peristiwa itu terjadi ketika ia sedang mengajar. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan kejadian berlangsung dan tidak pernah mengonfirmasi langsung detailnya kepada Bagus.
“Kalau misalnya memang itu semua dilakukan oleh suami saya di rumah kami di halaman belakang itu, saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi dan apa yang suami saya lakukan,” ujarnya.
Martha menyebut rumah tersebut selama ini hanya dihuni dirinya dan Bagus. Di luar pekerjaannya sebagai guru, ia juga menjalankan usaha bimbingan belajar di rumah. Keterangan itu disampaikan untuk menjelaskan aktivitasnya sehari-hari, sekaligus membantah mengetahui tindakan yang diduga dilakukan suaminya.
Mengetahui mesin giling, tetapi mengaku tak tahu fungsinya
Dalam keterangannya, Martha juga menjelaskan soal mesin pencacah atau mesin giling yang dibeli Bagus. Ia mengaku mengetahui alat itu datang ke rumah dan melihat dua orang membantu menurunkannya. Namun, ia mengatakan tidak bertanya kepada suaminya mengenai tujuan pembelian maupun penggunaannya.
Martha juga melihat mesin tersebut dibawa keluar dari rumah. Saat itu, ia membuka pintu bagi orang yang diminta membantu mengangkat alat tersebut dan sempat menawarkan kopi. Setelahnya, ia kembali masuk ke dalam rumah.
“Apakah saya mengetahui mesin pencacah itu ada, iya, saya mengetahui, tapi saya tidak tahu apa penggunaannya dan untuk apa,” kata Martha.
Ia menyebut tidak menanyakan alasan mesin itu dikeluarkan. Martha mengatakan tidak mengetahui bahwa alat tersebut diduga berkaitan dengan upaya menghilangkan jasad korban. Keterangannya mengenai mesin itu sebatas mengetahui keberadaan dan perpindahannya, bukan apa yang dilakukan Bagus dengan alat tersebut.
Soal cerobong, Martha mengira untuk membakar sampah
Martha turut menyinggung cerobong atau tungku bakar yang dibuat di rumah mereka. Ia mengaku mengetahui pembangunan itu karena melihat tukang yang mengerjakannya. Saat bertanya, ia mendapat penjelasan bahwa cerobong tersebut akan digunakan untuk membakar sampah.
Ia mengatakan tidak menaruh curiga karena Bagus, menurutnya, biasa membersihkan rumah dan membakar sisa kegiatan di halaman. Martha mencontohkan aktivitas memangkas atau merawat bonsai yang menurut keterangannya kerap berakhir dengan pembakaran sisa-sisa di pojok halaman.
“Untuk cerobong, saya tahu cerobong itu dibuat karena memang ada tukang yang datang di situ. Saya juga kenal dengan tukangnya,” ujar Martha. Ia mengatakan pertanyaannya saat itu hanya sebatas menanyakan fungsi cerobong tersebut.
Kasus terungkap setelah Dini dan anaknya dilaporkan hilang
Dini dan anaknya dilaporkan hilang sejak 20 September 2026. Keluarga mencari keduanya selama lebih dari sebulan. Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah informasi tentang hilangnya ibu dan anak tersebut beredar di media sosial.
Dalam informasi yang beredar, Dini disebut sempat bertengkar dengan Bagus di sebuah rumah makan ayam penyet di Ponorogo, Jawa Timur. Pertengkaran itu dikaitkan dengan telepon genggam yang dibanting dan dugaan bahwa Dini ditinggalkan di jalan. Informasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang beredar sebelum penyelidikan mengarah kepada Bagus.
Polisi menangkap Bagus pada Minggu (25/10) di Jombang. Setelah ditangkap, ia mengaku membunuh Dini di sebuah hotel, lalu membunuh anaknya. Menurut keterangan yang disampaikan aparat, jasad kedua korban kemudian dimutilasi dan dibakar. Polisi juga menyebut jasad itu dimasukkan ke mesin penggiling daging sebelum dibakar kembali.
Pengakuan Martha mengenai keberadaan mesin dan cerobong merupakan keterangannya kepada wartawan, bukan penetapan mengenai keterlibatannya dalam perkara. Penyidikan terhadap Bagus tetap menjadi ranah kepolisian. Sejumlah detail tentang hubungan para pihak dan rangkaian kejadian akan diuji melalui proses hukum, sementara keluarga korban masih menanti kejelasan atas kasus yang menimpa Dini dan anaknya.
