Harga minyak dunia merosot tajam pada penutupan perdagangan Senin (2/11) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemerintah Iran membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 7,4 persen, sedangkan Brent terkoreksi 7,6 persen.
WTI ditutup pada US$ 96,46 per barel. Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak 27 Juli, sementara harga Brent berakhir di US$ 104,77 per barel. Pergerakan tersebut mencerminkan perubahan sentimen pasar setelah muncul pernyataan dari kedua pihak mengenai kemungkinan perundingan.
Isyarat perundingan tekan harga minyak
Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dan peluang itu mungkin terwujud. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap arah konflik dan kemungkinan langkah militer Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Trump lebih memilih menghindari opsi militer dan meredakan ketegangan melalui perundingan. Namun, sikap itu belum berarti keputusan final mengenai langkah Washington telah ditetapkan.
Dalam keterangannya kepada CNBC, Rubio menegaskan bahwa pemerintah AS tetap memiliki kemampuan untuk bertindak secara militer jika diperlukan. Ia mengatakan pilihan yang lebih diinginkan adalah penyelesaian damai.
“Apa yang disampaikan oleh Presiden kepada Anda adalah keyakinan yang luar biasa bahwa jika kita perlu melakukan sesuatu secara militer, kita memiliki kemampuan untuk melakukannya. Namun, kita lebih memilih untuk menyelesaikannya secara damai,” ujar Rubio.
Trump sebelumnya menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu AS berlangsung. Meski demikian, pasar sempat memperhitungkan risiko eskalasi militer besar-besaran setelah pemilu. Kekhawatiran tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 10 persen sepanjang Oktober.
Iran juga menyatakan membuka jalan dialog
Sinyal diplomasi turut datang dari Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), menyatakan pemerintahnya sedang berupaya menyelesaikan persoalan melalui dialog.
Pezeshkian juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberi pemerintah wewenang tertentu untuk mengambil langkah dalam upaya tersebut. Pernyataan itu menambah indikasi bahwa komunikasi diplomatik menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan kedua pihak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kesepakatan dengan AS sangat mungkin tercapai apabila Washington menunjukkan itikad baik dan benar-benar mencari solusi damai. Menurut dia, para mediator tengah membahas proposal yang diajukan Iran dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September lalu.
Dalam proposal tersebut, Iran berharap AS mencabut sanksi, mengurangi kehadiran militer di kawasan, dan menghentikan blokade. Rincian itu menunjukkan bahwa pembicaraan yang tengah dijajaki masih berkaitan dengan sejumlah tuntutan yang perlu ditanggapi kedua pihak.
Pasar masih mencermati risiko konflik
Penurunan harga pada Senin bukan kali pertama pasar minyak bereaksi terhadap kabar kemungkinan perdamaian. Pada fase awal perang, harga minyak juga sempat mengalami aksi jual setelah beredar rumor mengenai peluang tercapainya kesepakatan.
Namun, konflik kemudian kembali memanas dan harga minyak dunia kembali melonjak. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa perubahan sentimen pasar belum tentu menandai penyelesaian konflik secara tuntas.
Karena itu, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan perundingan sekaligus pernyataan resmi dari Washington dan Teheran. Rubio mengatakan Trump belum mengambil keputusan final terkait rencana untuk kembali menyerang Iran. Sementara itu, peluang kesepakatan yang disebut kedua pihak masih bergantung pada proses diplomasi dan langkah yang akan ditempuh berikutnya.
Untuk saat ini, sinyal dialog telah memberi tekanan kuat terhadap harga minyak. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh apakah pembicaraan yang sedang dijajaki berlanjut menjadi kesepakatan, atau ketegangan kembali meningkat.
