Kepercayaan pengusaha terhadap prospek ekonomi Indonesia menguat selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyebut investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang hampir mencapai Rp2.000 triliun sebagai salah satu cerminnya.
Anindya menyampaikan pandangan itu dalam Taklimat Presiden kepada peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun Anggaran 2026 dan peserta Rapimnas Kadin Seluruh Indonesia. Acara tersebut berlangsung di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor.
Menurut Anindya, besarnya investasi domestik menunjukkan peran penting pengusaha nasional, termasuk pelaku usaha kelas menengah. Keterlibatan mereka, kata dia, menjadi salah satu penopang ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Investasi domestik dinilai memperkuat daya tahan ekonomi
Anindya menekankan bahwa PMDN bukan semata-mata mencerminkan aktivitas perusahaan besar. Investasi tersebut juga melibatkan pelaku usaha kelas menengah, yang dinilainya berperan dalam memperluas basis ekonomi dan memperkuat daya tahan Indonesia.
“Kalau dilihat PMDN itu juga melibatkan teman-teman di kelas menengah. Nah ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat,” ujar Anindya.
Ia juga menyebut dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk ikut mendorong pertumbuhan dan membuka kesempatan bagi pengusaha daerah maupun anggota asosiasi dan himpunan agar berkembang. Harapannya, pelaku usaha dapat naik kelas dan kelak mampu bersaing sebagai pemain besar.
Dalam paparannya, Anindya membandingkan nilai APBN sekitar Rp4.000 triliun dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp25.000 triliun. Ia mengatakan sekitar 85 persen perekonomian berada di luar APBN, sehingga dunia usaha memiliki ruang kontribusi yang besar.
Kadin soroti peluang industri masa depan
Kadin, menurut Anindya, juga berkomitmen berkontribusi dalam pengembangan industri masa depan. Ia menyebut kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), energi terbarukan, dan pusat data sebagai sektor yang berpeluang tumbuh serta memiliki potensi penggunaan komponen lokal.
Fokus pada sektor-sektor tersebut sejalan dengan tema Rapimnas Kadin, yakni ekonomi kerakyatan dan Indonesia mendunia. Anindya menilai pengembangan industri tidak hanya perlu menopang sektor yang sudah berjalan, tetapi juga membuka peluang baru yang dapat melibatkan pelaku usaha dalam negeri.
Ia turut menggambarkan fundamental ekonomi Indonesia sebagai tetap tangguh menghadapi berbagai gejolak. Anindya menyebut Indonesia masih menjadi “bright spot” dalam perekonomian dunia, sebagaimana menurutnya telah disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF) pada tahun sebelumnya.
Pengalaman menghadapi lima guncangan ekonomi dalam sekitar 25 tahun terakhir, kata Anindya, menunjukkan daya tahan Indonesia terus menguat. Penilaian tersebut ia sampaikan sebagai alasan untuk menjaga keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional di tengah kondisi global yang tidak pasti.
Pembangunan manusia jadi perhatian dunia usaha
Anggota Kadin Indonesia James Riyadi menyoroti perhatian Prabowo terhadap pembangunan manusia. Menurut James, pendidikan, pembentukan karakter, dan kapasitas kepemimpinan merupakan fondasi penting bagi kemajuan suatu bangsa.
“Hari ini pimpinan dunia usaha melihat seseorang Presiden yang luar biasa. Dia mencurahkan hati dia itu untuk pendidikan, untuk pembangunan manusia,” ujar James.
James juga mengapresiasi upaya memperluas kesempatan bagi generasi muda, termasuk dari kelompok masyarakat tertinggal, melalui sistem meritokrasi. Ia menilai P3MDI menjadi salah satu wujud visi untuk menyiapkan calon pemimpin melalui seleksi dan pembinaan yang terarah.
Ia menyebut peserta program tersebut telah menyelesaikan pendidikan S1 dan memiliki pengalaman kerja satu hingga dua tahun. Mereka, menurut James, akan menjalani pelatihan intensif selama sembilan bulan. Proses seleksi dan pembinaan itu ia pandang sebagai bagian dari upaya menyiapkan pemimpin masa depan.
Pernyataan Kadin tersebut menempatkan investasi, penguatan industri, dan pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari agenda yang saling berkaitan. Ke depan, besarnya kontribusi dunia usaha akan bergantung pada kemampuan pelaku nasional memanfaatkan peluang sekaligus memperluas manfaat pertumbuhan ke berbagai lapisan usaha.
