Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level 5.000 pada perdagangan hari ini setelah dua hari berturut-turut melemah menyusul pengumuman MSCI. Hingga siang, indeks naik 196,42 poin atau 3,93 persen ke posisi 5.193,03, dengan penguatan tercatat pada 624 saham.
Pemulihan indeks itu diikuti mayoritas saham badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di zona hijau. Saham perbankan pelat merah memimpin kenaikan, sementara sejumlah emiten konstruksi dan infrastruktur juga menguat. Namun, beberapa saham BUMN karya belum ikut bergerak dan tercatat stagnan.
IHSG berbalik menguat setelah dua hari melemah
Pergerakan IHSG pada sesi perdagangan tersebut menjadi pembalikan setelah indeks mengalami tekanan selama dua hari perdagangan beruntun. Pelemahan sebelumnya terjadi setelah pengumuman MSCI, sedangkan pada perdagangan hari ini indeks dibuka menguat dan kembali berada di atas ambang 5.000.
Data RTI Business menunjukkan kenaikan indeks mencapai 196,42 poin atau 3,93 persen hingga siang. Dengan posisi 5.193,03, IHSG memperlihatkan penguatan yang cukup luas di pasar, tercermin dari 624 saham yang naik. Angka itu memberi gambaran bahwa penguatan tidak hanya bertumpu pada satu atau dua emiten.
Meski demikian, data yang tersedia merupakan gambaran pergerakan hingga siang hari. Angka tersebut belum menunjukkan bagaimana indeks bergerak sampai penutupan perdagangan. Karena itu, posisi dan persentase kenaikan pada akhir sesi dapat berbeda dari catatan sementara tersebut.
Saham bank BUMN menjadi penopang kenaikan
Di antara saham perusahaan negara, tiga bank besar mencatat kenaikan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI menguat 8,33 persen ke level Rp 3.640 per saham. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi di antara saham perbankan BUMN yang disebut dalam data perdagangan hingga siang.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 6,82 persen ke Rp 2.730 per saham. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 6,42 persen ke Rp 3.150 per saham. Ketiganya sama-sama berada di zona positif, sejalan dengan arah penguatan IHSG.
Pergerakan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa penguatan emiten pelat merah tidak terbatas pada satu perusahaan. Namun, besar kenaikan tiap saham berbeda. BMRI mencatat persentase kenaikan paling tinggi di antara tiga bank yang disebut, disusul BBRI dan BBNI.
Emiten konstruksi dan infrastruktur ikut menguat
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah perusahaan negara di luar sektor perbankan. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) bertambah 95 poin atau 7,39 persen ke Rp 1.380 per saham. PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) naik 5,83 persen ke level Rp 2.180 per saham.
Berbeda dengan SMGR dan JSMR, beberapa saham BUMN karya belum menunjukkan perubahan hingga waktu data tersebut dicatat. PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), serta Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) terpantau stagnan.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa penguatan IHSG dan mayoritas saham BUMN tidak berarti seluruh emiten bergerak seragam. Sejumlah saham mencatat kenaikan tajam, sementara yang lain bertahan pada posisi sebelumnya. Pergerakan per saham tersebut menjadi konteks penting untuk membaca penguatan indeks secara lebih cermat.
Perkembangan berikutnya tetap perlu dicermati
Rebound IHSG ke atas 5.000 dan kenaikan ratusan saham menandai perubahan arah setelah tekanan dua hari perdagangan. Pada saat yang sama, penguatan bank-bank BUMN dan beberapa emiten lain turut mewarnai pergerakan pasar hingga siang.
Namun, catatan sementara ini belum memastikan apakah penguatan akan bertahan hingga penutupan. Investor dapat mencermati perkembangan indeks dan pergerakan saham individual pada sesi berikutnya, sembari membedakan kenaikan pasar secara luas dari kinerja masing-masing emiten.
