Serangan pasukan bersenjata Yaman disebut mampu menguji pertahanan Arab Saudi bukan karena Riyadh kekurangan anggaran militer atau sistem canggih, melainkan karena perubahan taktik penyerang dan keterbatasan amunisi pencegat. Financial Times menyoroti strategi yang memaksa pertahanan Saudi menghadapi banyak sasaran sekaligus, sementara peluncur rudal yang bergerak sulit dilacak.
Laporan yang dikutip Pars Today itu menggambarkan bagaimana serangan berulang dan tersebar secara geografis dapat menguras persediaan pertahanan. Sistem Saudi, menurut analisis yang disampaikan dalam laporan tersebut, juga harus terus berpindah untuk melindungi wilayah dan fasilitas yang berbeda.
Persoalan ini menunjukkan bahwa kecanggihan senjata tidak dengan sendirinya menjamin perlindungan menyeluruh. Tantangan utama, sebagaimana diuraikan Financial Times, terletak pada cara pasukan Yaman menguji cakupan radar, mengalihkan perhatian sistem pertahanan, dan memilih sasaran yang perlindungannya melemah.
Taktik serangan Yaman menguji cakupan pertahanan Saudi
Financial Times melaporkan bahwa drone jarak jauh Samad 2 dan Samad 3 digunakan untuk mengetahui jangkauan sistem pertahanan Arab Saudi. Informasi mengenai cakupan itu kemudian dapat dimanfaatkan dalam serangan berikutnya, termasuk ketika rudal jelajah terbang rendah dan kemungkinan mengubah jalur.
Karakter serangan tersebut mempersulit proses pemantauan dan pencegatan. Rudal yang bergerak pada ketinggian rendah dapat lebih sulit dideteksi, sedangkan perubahan arah membuat sistem pertahanan harus merespons sasaran yang tidak bergerak pada lintasan tetap. Laporan itu tidak merinci jenis radar yang terlibat ataupun lokasi setiap serangan.
Sascha Bruchmann, peneliti di lembaga penelitian strategis internasional yang berbasis di Bahrain, mengatakan pasukan bersenjata Yaman menjalankan strategi untuk menguras cadangan pertahanan Saudi. Caranya, satu sasaran penting dihantam berulang kali dalam beberapa hari sehingga Riyadh terdorong mengarahkan sistem pertahanan yang terbatas ke lokasi tersebut.
Setelah perhatian pertahanan terkonsentrasi di satu titik, wilayah yang ditinggalkan sistem itu dipantau. Menurut penjelasan Bruchmann dalam laporan tersebut, fasilitas yang perlindungannya berkurang kemudian dapat menjadi sasaran. Pola ini membuat pertahanan harus menentukan prioritas, sementara ancaman tidak hanya datang dari satu kawasan.
Sasaran tersebar dan amunisi pencegat yang terbatas
Serangan yang tersebar secara geografis di Arab Saudi menambah beban sistem pertahanan. Sistem yang harus melindungi sejumlah wilayah dan fasilitas perlu terus dipindahkan atau diarahkan ulang. Pergerakan itu, menurut laporan Financial Times, membuat pertahanan Saudi berada dalam kondisi terus-menerus menyesuaikan diri.
Di saat bersamaan, persediaan amunisi pencegat menjadi perhatian. Jika serangan berulang memaksa sistem pertahanan menembakkan pencegat atau mengalihkan sumber daya ke satu sasaran, kemampuan untuk merespons ancaman lain ikut diuji. Laporan tersebut menempatkan penurunan amunisi pencegat sebagai salah satu faktor yang menjelaskan kesulitan Saudi, bukan sekadar besarnya belanja militernya.
Bilal Saab, salah satu direktur lembaga Trends dan peneliti Chatham House, mengaitkan kegagalan terbaru Saudi dengan taktik Ansarullah serta persoalan koordinasi di antara sistem pertahanan negara itu. Ia juga menekankan bahwa pertahanan udara yang sempurna tidak mungkin diwujudkan.
Pernyataan itu menggarisbawahi persoalan yang lebih luas: sistem pertahanan harus mendeteksi ancaman, menentukan prioritas, lalu merespons dalam waktu terbatas. Ketika sasaran datang dari berbagai arah dan kemampuan pencegat tidak tak terbatas, koordinasi menjadi sama pentingnya dengan perangkat yang dimiliki.
Pengalaman perang membentuk strategi penyerang
Financial Times juga menyebut pengalaman panjang perang membantu pasukan Yaman mengenali kelemahan radar dan sistem pertahanan Barat. Laporan itu menyatakan mereka telah mempelajari titik-titik lemah tersebut selama bertahun-tahun berperang dengan Arab Saudi, Israel, dan Amerika Serikat.
Dalam laporan yang sama, pasukan Yaman disebut memanfaatkan pengalaman Iran dalam pertempuran dengan Israel dan Amerika Serikat. Keterangan itu menempatkan serangan bukan hanya sebagai persoalan jumlah senjata, tetapi juga sebagai hasil pembelajaran taktik dan pemahaman atas cara kerja pertahanan lawan.
Analisis Financial Times memberi gambaran bahwa tekanan terhadap pertahanan Saudi lahir dari gabungan beberapa faktor: serangan berulang, sasaran yang tersebar, sulitnya melacak peluncur bergerak, serta kebutuhan mengelola amunisi pencegat dan koordinasi antarsistem. Namun, laporan yang dirujuk Pars Today tidak mencantumkan angka persediaan, rincian kerusakan, atau waktu spesifik serangan.
Ke depan, kemampuan Saudi untuk menyesuaikan koordinasi dan distribusi sistem pertahanan akan menjadi bagian penting dalam menghadapi pola serangan seperti itu. Bagi negara yang mengandalkan perlindungan udara, tantangannya bukan hanya memiliki teknologi canggih, tetapi memastikan teknologi tersebut tetap efektif ketika ancaman datang berulang kali dan dari banyak arah.
