Gempa bermagnitudo 5,2 mengguncang Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu, 7 Oktober 2026, dini hari. Getarannya dirasakan warga di sejumlah wilayah, termasuk Kota Mataram, sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa itu tidak berpotensi tsunami.
Gempa tercatat terjadi pukul 03.15.26 WIB atau 04.15.26 WITA. Episenter berada pada koordinat 8,77 derajat Lintang Selatan dan 116,14 derajat Bujur Timur. Pusat gempa berada di darat, di kawasan tenggara Lombok Barat, dengan kedalaman 92 kilometer.
Informasi awal BMKG dirilis sekitar dua menit setelah gempa, yakni pada pukul 03.17.51 WIB atau 04.17.51 WITA. Waktunya bertepatan dengan saat sebagian warga masih berada di dalam rumah. Getaran yang muncul pada dini hari membuat sejumlah orang menyadari terjadinya gempa.
Getaran gempa terasa hingga Mataram dan Bali
Mataram menjadi salah satu wilayah yang merasakan guncangan paling kuat, dengan intensitas IV-V MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dapat dirasakan banyak orang dan sebagian warga yang sedang tidur bisa terbangun. Intensitas gempa menggambarkan dampak guncangan yang dirasakan di suatu lokasi, bukan besarnya magnitudo.
Di Lombok Tengah, getaran tercatat pada skala III-IV MMI. Sementara itu, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Sumbawa merasakan guncangan sekitar skala III MMI. Getaran juga dilaporkan sampai ke Kuta dengan intensitas II-III MMI dan Denpasar pada skala II MMI.
Perbedaan tingkat guncangan antardaerah dapat terjadi meskipun gempa berasal dari satu pusat. Jarak terhadap episenter, kondisi tanah, serta karakteristik bangunan turut memengaruhi seberapa kuat getaran terasa. Dengan demikian, pengalaman warga di satu wilayah tidak selalu sama dengan yang dirasakan di wilayah lain.
Sejumlah laporan menyebut episenter berada sekitar 9 kilometer tenggara Lombok Barat, sedangkan informasi lain mencantumkan jarak sekitar 14 kilometer. Koordinat dan kedalaman yang dicatat BMKG menjadi parameter penting untuk mengenali lokasi gempa; data tersebut dapat diperbarui setelah analisis lebih lanjut.
BMKG: gempa tidak berpotensi tsunami
BMKG menyatakan gempa Lombok Barat ini tidak berpotensi tsunami. Episenter gempa yang berada di darat menjadi salah satu informasi penting dalam penilaian tersebut. Meski demikian, kepastian itu tidak berarti warga perlu mengabaikan kewaspadaan terhadap kondisi setelah guncangan.
Analisis yang dikutip dari ANTARA mengaitkan gempa dengan deformasi batuan di dalam lempeng pada zona subduksi Lempeng Indo-Australia. Mekanisme sumbernya menunjukkan pergerakan turun atau normal fault. Informasi ini menjelaskan proses geologi yang berkaitan dengan gempa, bukan tanda adanya ancaman tsunami.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan perkembangan aktivitas kegempaan dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengandalkan kanal resmi BMKG jika muncul kabar baru mengenai gempa di wilayah NTB. Imbauan tersebut penting, terutama ketika informasi beredar cepat setelah terjadi guncangan.
Gempa susulan tercatat, dampak masih dipantau
Hingga pukul 04.45 WITA, BMKG mencatat satu gempa susulan dengan magnitudo 1,3. Masyarakat diimbau berhati-hati terhadap kemungkinan susulan dan menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa. Pemeriksaan kondisi bangunan perlu dilakukan sebelum warga kembali menggunakannya.
Hingga informasi yang tersedia saat itu, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan maupun korban. Perkembangan dampak di lapangan masih menunggu laporan dari wilayah terdampak dan otoritas setempat. Karena itu, ketiadaan laporan awal belum menjadi kepastian bahwa tidak ada dampak sama sekali.
Warga yang merasakan guncangan atau menemukan kerusakan dapat mengikuti arahan pemerintah daerah dan memantau pembaruan BMKG. Parameter gempa juga mungkin berubah apabila analisis lanjutan menghasilkan pemutakhiran. Untuk sementara, informasi resmi dan pemeriksaan kondisi sekitar menjadi pegangan penting setelah gempa dini hari ini.
