Visi Media Asia (VIVA), emiten Grup Bakrie, menyiapkan private placement senilai Rp1,72 triliun untuk mengonversi sebagian utangnya menjadi saham. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 43,08 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan dalam kisaran Rp25 hingga Rp40 per saham. Aksi korporasi ini berpotensi membuat kepemilikan investor lama terdilusi hingga 72,35 persen.
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut putusan homologasi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Dari total kewajiban sekitar Rp2 triliun, VIVA akan melunasi Rp1,72 triliun melalui konversi utang menjadi saham. Sisa kewajiban tidak dirinci dalam bahan pengumuman yang dikutip.
Utang VIVA dikonversi menjadi saham baru
Konversi itu melibatkan dua kreditur. VIVA akan menerbitkan saham baru senilai Rp1 triliun untuk Harta Abadi Jaya (HAJ), serta saham senilai Rp712 miliar untuk Jayakarta Sugih Makmur (JSM). Dengan demikian, kedua pihak menjadi penerima utama saham dalam private placement tersebut.
HAJ dijadwalkan memperoleh sekitar 25,27 miliar saham baru. Setelah memperhitungkan saham odd lot, kepemilikan HAJ diperkirakan mencapai 42,43 persen. Sementara JSM akan menerima sekitar 17,81 miliar saham, dengan porsi kepemilikan sekitar 29,91 persen setelah penyesuaian saham odd lot.
Secara keseluruhan, jumlah saham baru yang direncanakan mencapai maksimal 43,08 miliar lembar. Perseroan menyebut harga nominal saham sebesar Rp40, sedangkan skenario harga pelaksanaan berada pada rentang Rp25-Rp40 per lembar. Jumlah dan harga akhir pelaksanaan menjadi bagian dari rangkaian aksi yang masih memerlukan persetujuan pemegang saham.
Dalam perhitungan untuk saham odd lot, terdapat total 97.025 lembar yang akan dibayar tunai senilai Rp3.881. Angka itu berasal dari penyesuaian pada alokasi HAJ dan JSM. Rincian tersebut menunjukkan bahwa skema transaksi mencakup penerbitan saham dalam jumlah besar sekaligus penyelesaian tunai untuk bagian saham yang tidak genap.
Investor lama berpotensi terdilusi 72,35 persen
Dampak utama private placement tersebut adalah berkurangnya porsi kepemilikan investor yang sudah lebih dahulu memegang saham VIVA. Perseroan memperkirakan tingkat dilusi mencapai 72,35 persen. Dilusi terjadi karena jumlah saham baru yang diterbitkan menambah total saham beredar, sehingga porsi pemegang saham lama menyusut apabila mereka tidak memperoleh saham baru dalam aksi itu.
Meski komposisi kepemilikan berubah, Bakrie Global Ventura disebut tetap menjadi pengendali VIVA melalui kepemilikan langsung maupun tidak langsung. Setelah transaksi, porsi Bakrie Global diperkirakan tersisa 9,11 persen. Pemegang saham lainnya meliputi UBS AG Hongkong sebesar 1,39 persen, Surya Ganesa Amani 1,907 persen, dan masyarakat 13,50 persen.
HAJ diperkirakan menguasai 42,44 persen saham setelah transaksi, sedangkan JSM memiliki 29,91 persen. Angka kepemilikan HAJ dalam proyeksi pascaaksi sedikit berbeda dari rincian alokasi yang disebut sebesar 42,43 persen setelah memperhitungkan saham odd lot. Rincian komposisi akhir akan mengikuti pelaksanaan transaksi dan persetujuan yang diperlukan.
RUPS dijadwalkan pada November 2026
VIVA akan meminta persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 17 November 2026. Pemegang saham yang berhak hadir dan memberikan suara harus tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada 23 Oktober 2026.
Dengan demikian, rencana konversi utang belum menjadi transaksi final. Persetujuan pemegang saham menjadi tahapan yang harus dilalui sebelum penerbitan saham baru dapat dilakukan. Bagi pemegang saham, besarnya dilusi yang diproyeksikan membuat keputusan dalam RUPSLB dan rincian akhir pelaksanaan menjadi hal yang patut dicermati.
Saham VIVA tercatat di level Rp40
Rencana private placement diumumkan saat saham VIVA diperdagangkan di bawah level gocap, istilah yang merujuk pada harga Rp50. Pada perdagangan akhir pekan yang dikutip, saham VIVA turun 2,44 persen atau satu poin ke Rp40 per saham.
Sejak awal tahun, harga saham VIVA tercatat melemah 20 persen atau setara Rp10 dibandingkan posisi Rp50 pada 2 Januari 2026. Emiten tersebut memiliki kapitalisasi pasar Rp658,57 miliar, sementara rasio harga terhadap laba atau price earning ratio tercatat nihil.
Perkembangan berikutnya akan ditentukan oleh persetujuan pemegang saham dan pelaksanaan konversi utang sesuai skema yang diajukan. Investor dapat mencermati jadwal RUPSLB, perubahan komposisi pemegang saham, serta informasi lanjutan dari perseroan sebelum mengambil keputusan terkait saham VIVA.
