PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA), yang beroperasi dengan nama Mandiri Services, memperoleh kontrak jasa angkutan batu bara senilai sekitar Rp2,2 triliun. Kerja sama dengan PT Ade Putra Tanrajeng, anak perusahaan PT Kutai Bara Nusantara, itu berlaku selama empat tahun dan ditargetkan berjalan hingga 2030.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 6 Oktober 2026. Direktur Utama MAHA Yenny Hamidah Koean menyebut kontrak baru itu berpotensi memberi dampak langsung terhadap pendapatan perseroan pada masa mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Nilai kontrak sekitar Rp2,2 triliun menambah portofolio jasa transportasi komoditas pertambangan yang dikelola MAHA. Perusahaan tidak merinci dalam keterangan yang dikutip berapa volume batu bara yang akan diangkut ataupun pembagian nilai kontrak untuk setiap tahunnya.
Kontrak MAHA berlaku empat tahun hingga 2030
Yenny mengatakan kerja sama itu mencerminkan kemampuan operasional perusahaan dalam menyediakan layanan angkutan bagi sektor pertambangan. Ia menekankan keandalan, efisiensi, dan keselamatan sebagai aspek yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan layanan tersebut.
“Kontrak ini merupakan bukti nyata dari kapabilitas kami dalam memberikan jasa transportasi komoditas pertambangan yang andal, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pertambangan. Kami optimistis kerja sama ini akan membawa nilai tambah bagi kedua belah pihak,” kata Yenny.
Kontrak itu diperoleh dari PT Ade Putra Tanrajeng, yang merupakan anak perusahaan PT Kutai Bara Nusantara. Informasi yang tersedia menyebut perjanjian berjangka empat tahun, dengan periode kerja sama hingga 2030. Tidak ada rincian tambahan mengenai lokasi pengangkutan maupun jadwal operasional dalam keterangan tersebut.
Bagi MAHA, kontrak baru ini menjadi tambahan kegiatan jasa transportasi batu bara di tengah pertumbuhan kinerja keuangan pada semester pertama 2026. Namun, perusahaan belum menyampaikan besaran kontribusi kontrak secara terpisah terhadap pendapatan, sehingga dampak finansialnya akan terlihat dalam laporan keuangan berikutnya.
Laba bersih MAHA naik lebih dari 1.000 persen
Hingga Juni 2026, MAHA membukukan laba bersih Rp142,13 miliar. Angka itu meningkat sekitar 1.006 persen dibandingkan laba bersih Rp12,89 miliar pada semester I-2025, berdasarkan data kinerja yang dilaporkan IDXChannel.
Pendapatan bersih perseroan juga bertambah 34,1 persen secara tahunan, dari Rp1,23 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp1,65 triliun pada semester I-2026. Kenaikan pendapatan tersebut berlangsung bersamaan dengan peningkatan laba bruto sebesar 70 persen menjadi Rp273,4 miliar.
Margin laba bruto MAHA tercatat naik menjadi 16,6 persen. Angka-angka itu menggambarkan kinerja perseroan yang menguat sebelum pengumuman kontrak baru, meski informasi yang tersedia tidak menguraikan faktor-faktor lain yang mendorong perubahan laba bersih maupun laba bruto.
Perolehan kontrak dan pertumbuhan kinerja semester I menjadi dua perkembangan yang akan dicermati investor dalam menilai prospek MAHA. Pelaksanaan kerja sama selama empat tahun ke depan serta laporan keuangan periode berikutnya akan memberi gambaran lebih jelas tentang kontribusi kontrak terhadap pendapatan perusahaan.
