Saham GOTO dan BBCA masuk dalam portofolio awal Coeli Asset Management, pengelola investasi asal Swedia, di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia. Langkah tersebut menjadi perhatian investor, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa arus dana asing ke pasar domestik telah berbalik arah.
Coeli untuk pertama kalinya menempatkan dana pada saham Indonesia dengan alokasi awal hampir 6 persen dari total dana kelolaannya. Dua saham yang dipilih adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai perkembangan ini perlu dicermati dalam konteks kondisi pasar yang lebih luas. Keputusan FTSE yang meredakan kekhawatiran mengenai penurunan status pasar Indonesia memberi sentimen positif, tetapi belum menandai pemulihan yang berkelanjutan.
FTSE masih memantau perkembangan pasar dan menunda perubahan indeks tertentu hingga Desember. Kekhawatiran terkait MSCI, yang sebelumnya ikut memicu tekanan jual, juga belum sepenuhnya terjawab. Sepanjang tahun berjalan, IHSG masih melemah sekitar 30 persen.
Masuknya Coeli belum menjadi sinyal pembalikan tren
Menurut Jason, keputusan satu pengelola investasi asing belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa investor global kembali berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Namun, pemilihan GOTO dan BBCA tetap menarik karena kedua emiten berada dalam kondisi dan cerita investasi yang berbeda.
GOTO mendapat perhatian setelah harga sahamnya baru saja keluar dari batas Rp 50. Dari sisi bisnis, GoPay mencatat pertumbuhan portofolio pinjaman atau loan book sebesar 58 persen secara tahunan. GOTO juga membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada semester I-2026.
Meski begitu, prospek perusahaan masih menghadapi tantangan. Bisnis ojek online tertekan oleh aturan komisi 8 persen yang berlaku sejak Juli. Dampak menyeluruh dari kebijakan tersebut diperkirakan baru terlihat dalam laporan keuangan kuartal III-2026.
Sejumlah rencana korporasi GOTO juga masih dalam tahap evaluasi manajemen. Di antaranya penggabungan nilai nominal saham atau reverse stock split, penghapusan 32 miliar saham treasuri, serta komitmen pembelian kembali saham dengan nilai hingga Rp 3,5 triliun.
BBCA dinilai punya ruang penilaian ulang
Untuk BBCA, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 9.480. Target tersebut mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi 2026, sementara saham itu saat ini diperdagangkan pada estimasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury menilai turunnya kepercayaan pasar saat ini berpotensi membuka ruang bagi penilaian ulang valuasi jika katalis positif mulai terwujud. Salah satu penopangnya adalah pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat marjin bunga bersih atau NIM.
Prospek biaya kredit atau cost of credit yang lebih rendah dari perkiraan juga menjadi faktor pendukung. Hal itu dapat terjadi jika kebutuhan pencadangan lebih awal tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik. Perbaikan sentimen di pasar domestik maupun global turut masuk dalam pertimbangan.
Namun, target dan katalis tersebut tetap disertai risiko. Pertumbuhan kredit atau penyesuaian imbal hasil yang lebih rendah dari perkiraan, biaya pendanaan dan biaya kredit yang lebih tinggi, serta penurunan NIM yang lebih dalam dapat menekan proyeksi BBCA. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi perhatian KB Valbury.
Investor perlu melihat katalis dan risiko bersama
Pilihan Coeli terhadap GOTO dan BBCA memperlihatkan bahwa minat terhadap saham Indonesia masih ada, tetapi langkah tersebut belum menghapus tekanan pasar. Bagi GOTO, perkembangan bisnis GoPay dan laba bersih perlu dibaca berdampingan dengan dampak aturan komisi serta keputusan korporasi yang belum final.
Sementara itu, daya tarik BBCA bergantung pada realisasi pertumbuhan kredit, kualitas aset, NIM, dan kondisi pendanaan. Target harga dari sekuritas merupakan proyeksi yang dapat berubah seiring perkembangan faktor-faktor tersebut, bukan kepastian hasil investasi.
Dengan FTSE yang masih melakukan pemantauan dan kekhawatiran terkait MSCI yang belum tuntas, arah pasar akan bergantung pada perkembangan berikutnya. Investor dapat mencermati laporan keuangan dan keputusan indeks mendatang sembari menimbang risiko masing-masing saham, bukan hanya mengikuti masuknya satu pengelola dana asing.
